Rumah Sejati Oleh VEN. AJHAN CHAH
Dhamma ini diberikan oleh Ajhan Chah saat mengunjungi suatu keluarga dimana orang tua yang dicintai akan meninggal.
Dengan tujuan : supaya keluarga yang ditinggalkan maupun orang tua yang akan meninggal tersebut bisa mendapatkan pengertian yang benar dalam menghadapi penderitaan kematian
Sekarang tetapkan dalam pikiran anda untuk mendengarkan dengan khidmat dhamma ini. Selama saya bicara, perhatikan kata-kata saya seolah - olah sang buddha sendiri duduk di hadapan anda. Tutuplah mata anda dan bersikaplah agar diri anda nyaman, tenangkan pikiran anda dan buatlah terpusat menjadi satu. Dengan penuh kerendahan hati perkenankan Triratna, yakni kebijaksanaan, kebenaran, dan suci murni berada di dalam hati anda sebagai suatu bukti rasa hormat pada yang dicerahkan sempurna.
Hari ini saya tidak membawa sesuatu materi atau benda apapun untuk diberikan kepada anda, tetapi hanya Dhamma, yaitu ajaran-ajaran sang Buddha. Dengarkanlah dengan baik. Anda harus mengerti bahwa biarpun diri Sang Buddha sendiri dengan banyak bekal kebajikan yang dikumpulkan, tidak dapat menghindari kematian badaniah. Sewaktu ia mencapai usia lanjut ia meninggalkan badannya dan melepaskan diri dari beban berat.
Sekarang anda juga harus belajar merasa puas sebab selama bertahun-tahun anda telah memakai badan ini. Anda harus merasakan bahwa itu sudah cukup.
Anda dapat membandingkan dengan peralatan dapur rumah tangga yang telah anda miliki selama bertahun - tahun; cangkir, piring cawan , dan sebagainya. Pada waktu pertama kali anda memilikinya, mereka terlihat masih bersih dan cerah, tapi sekarang setelah anda memakainya dengan begitu lama, mereka mulai tampak lusuh,. Sebagian ada yang pecah, ada yang hilang dan ada yang telah berubah menjadi buruk, mereka tidak memiliki bentuk tetap, dan hal demikian itu adalah sifat dasar mereka,. Demikian pula dengan badan anda, ia telah terus-menerus berubah, sejak anda dilahirkan, masa kanak-kanak, masa muda, hingga sampai sekarang mencapai usia tua. Anda harus bisa menerimanya.
Sang Buddha berkata bahwa kondisi-kondisi dalam yaknik kondisi kondisi badaniah, ataupun kondisi-kondisi luar (eksternal), mereka tanpa aku atau anatta, sifat sejati mereka adalah berubah. Renungkan kebenaran ini sehingga anda dapat melihat dengan jelas.
Segumpalan daging ini yang mengalami keusangan adalah sacca-dhamma atau kebenaran. Jadi kebenaran dari badan ini adalah saccadhamma, dan ini merupakan ajaranketidakkekalan dari Sang Buddha. Sang Buddha mengajarkan kita untuk mengamati badan ini, berkontemplasi dan dapat menyesuaikan dengan sejati-sejatinya maka kita harus dapat menyesuaikan dengan badan, apapun keadaannya. Sang Buddha mengajarkan bahwa kita harus dapat memisahkan yaitu hanya badaniah yang terkunci dalam penjara dn tidak membiarkan pikiran ikut terperangkap di dalamnya.
Sekarang bila badan anda mulai menurun dan keadaannya memburuk karena usia, jangan menolak atau melawannya serta pikiran anda jangan ikut terperangkap dan menuurun menjadi buruk juga, tapi pisahkan pikiran anda darinya. Berikan energipada pikiran anda dengan menyadari kebenaran sifat jati semua gejala yang ada.. Sang Buddha mengajarkan bahwa sudah demikianlah sifat jati dari badan, tidak bisa diubah menjadi lain, setelah dilahiran ia menjadi tua, sakit, meninggal. Ini adalah kebenaran mutlak yang sekarang anda temukan. Amatilah badan ini dengan kebijaksanaan dan sadarilah.
Biarpun rumah anda kebanjiran atau terbakar habis, apapun bahaya malapetaka yang mengancamnya, biarkan itu hanya menyangkut rumah anda. Bila ada bahaya kebanjiran, jangan ia ikut membanjiri pikiran anda. Bila ada bahaya kebakaran, jangan ikut membakar hati anda. Biarkan kebanjiran dan kebakaran itu hanya menimpa rumah anda, yang sebenarnya adlaah sesuatu hal diluar diri anda. Perkenankan pikiran anda melepaskan diri dari kemelekatannya. Usia sudah cukup
Anda telah hidup dalam jangka waktu cukup lama. Mata anda telah banyak melihat bentuk dan aneka warna, telinga anda telah banyak mendengar suara beraneka macam, anda telah mengalami bermacam-macam pengalaman. Dan demikianlah sesungguhnya semua itu, hanya suatu pengalaman, suatu kejadian, satu kesan. Anda telah banyak makan beraneka macam makanan lezat dan semua rasa lezat itu hanya rasa lezat, lain tidak. Rasa tdak enak hanya tidak enak, hanya itu. Bila mata melihat suatu bentuk indah, sesungguhnya hanya itu saja yaitu bentuk indah, lain tidak. Suatu bentuk buruk hanya suatu bentuk buruk. Telinga mendengarkan suatu suara yang merdu menawan dan tidak lebih dari itu. Suatu suara yang berisik, adalah suatu suara berisik, hanya itu Sang Buddha mengatakan bahwa kaya-miskin, tua muda, manusia maupun binatang, tiada suatu makhluk di dunia ini dapat mempertahankan suatu keadaan apapun dalam jangka waktu yang lama. Semua mengalami perubahan dan pemisahan. Ini adalah suatu kenyataan hidup dimana kita tidak berdaya untuk mengubahnya.
Tetapi Sang Buddha mengatakan bahwa apa yang dapat kita usahakan adalah berkontemplasi mengenai badan dan pikiran (mental) dan melihat sadar bahwa sebenarnya mereka tidak berkepribadian, melihat sadar bahwa kedua-duanya bukkan "aku" atau bukan 'milikku". Mereka hanya suatu kebenaran sementara. Seperti rumah ini, secara normal atau secara nama saja rumah ini milik anda, tetapi anda tidak dapat membawanya serta bersama-sama kemana anda suka.
Demikian juga dengan kekayaan anda, harta miliki anda, dan keluarga anda, mereka semua itu menurut nama adalah milik anda, tetapi sesungguhnya bukan milik anda, mereka milik alam. Nah, kebenaran ini tidak berlaku khusus bagi anda saja, tetapi semua dalam keadaan posisi yang sama, demikian juga bagi Sang Buddha dan murid muridnya yang telah dicerahkan. Mereka berbeda dengan kida dalam suatu hal, yaitu mereka dapat menerima sebagai sesuatu yang nyata semua keadaan ini dengan apa adanya, mereka dapat melihat sadar bahwa tidak ada jalan lain.
Maka Sang Buddha mengajarkan ita untuk mengamati dan memeriksa badan ini, dari telapak kaki hingga ke ubun-ubun kepala dan turun sampai ke kaki lagi. Amatilah badan ini. Apa saja yang dapat anda lihat? Dapatkah anda menemukan suaaatu inti yang tetap? Seluruh badan ini secara teratur mengalami kemerosotan, mundur dan Sang Buddha mengajarkan kita untuk melihat-sadar bahwa sesungguhnya badan ini bukan milik kita. Adalah sangat wajar badan mengalami hal ini, sebab semua gejala atau fenomena yang berkondisi adalah subyek dari perubahan.
Bagaimana pula seharusnya yang terjadi jika tidak demikian? Sebenarnya tidak salah bahwa badan mengalami demiikian. Bukan badan yang menyebabkan anda menderita, tetapi jalan pikiran andalah yang salah. Bila anda melihat kebenaran dengan salah, maka pasti akan terjadi kekacauan dan kebingungan. Seperti air disungai. Dilereng, sungai mengalir ke bawah, tapi ia tidak pernah melawan arah arus yakni ke atas, hal ini wajar. Bila seorang berdiri di tepi sungai dan melihat air sungai mengalir cepat ke bawah, dan secara bodoh ia menginginkan air mengalir naik ke atas lereng, maka ia menderita. Apapun yang diperbuat, dengan jalan pikiran yang salah ini akan menyebabkan ia tidak mendapat ketenangan. Ia tidak akan berbahagia karena berpandangan salah, berpikir melawan arus. Bila ia mempunyai pandangan benar ia akan melihat sadar bahwa air di lereng tidak terelakkan harus mengalir turun dan sebelum ia dapat menyadari dan menerima kenyataan ini ia akan tetap terganggu oleh kebingungan dan kegelisahan.
Sungai di lereng harus mengalir ke bawah adalah seperti badan anda. Setelah mengalami masa muda, badn anda akan menjadi tua dan sekarang berkelok-kelok menju kematian. Jangan menginginkan keadaan berlawanan, ini adalah sesuatu dimana anda tidak akan berdaya untuk mengubahnya. Sang Buddha mengajarkan kita untuk melihat semua ini sebagaimana sesuatu yang nyata adanya dan melepaskan keterpautan kita padanya. Ambillah perasaan melepaskan ini sebagai perlindungan anda. Tetap bermeditasilah walaupun anda merasa lelah dan kehabisan tenaga. Biarkan pikiran anda tetap bersama nafas anda. Ambil beberapa nafas dengan memakai mantra "Buddho" 'Praktekkan ini hingga kebiasaan. Semakin anda merasa kehabisan tenaga semakin anda harus berusaha menghaluskan dan memfokuskan konsentrasi anda sedemikian rupa sehingga anda dapat menanggulangi dan mengatasi perasaan-perasaan serta sensasi-sensasi sakit yang timbul.
Bila anda mulai merasa letih maka hentikan semua pikiran anda yang sedang berkeliaran itu, biarkan dengan sendirinya pikiran itu terkumpul kembali dan menyadari nafas lagi. Ulangi dalam hati "Bud-dho, Bud-dho". Buang semua pengaruh-pengaruh dari luar. Jangan berpegang pada pikiran-pikiran mengenai anak anda, keluarga anda, jangan berpaut pada apapun. Lepaskan! Biarkan pikiran terpusat pada satu titik tunggal dan biarkan pikiran yang terpusat itu menetap di nafas. Biarkan nafas sebagai satu-satunya obyek yang diketahui. Berkonsentrasilah hingga pikiran semakin meningkat menjadi halus, hingga perasaan atau sensasi menjadi tidak berarti dan disanalah ada suatu kejernihan dalam dan kewaspadaaan. Lalu bila perasaan - perasaan sakit timbul, mereka secara bertahap akan berhenti sendiri.
Comments
Post a Comment