Pengaruh dari Bentuk Gunung dan Sungai Bagi Manusia

Banyak orang Tionghoa yang berpendapat, bahwa gunung dan sungai memiliki bentuk tersendiri. Ada gunung yang bentuknya mirip NAGA. Sebuah batu yang menonjol di lereng gunung/ bukit mirip kepala Harimau, bahkan ada batu melengkung, yang bila diperhatikan menyerupai wanita sexy.

Hong Sui adalah semacam BAHASA LAMBANG, mengibaratkan ALAM SEMESTA seperti kebun-binatang, mengumpamakan gunung seperti NAGA, MACAM, ANJING dan SUNGAI seperti NAGA atau ULAR.

Hidup manusia terkena pengaruh bentuk tanah yang melambangkan binatang, yang memiliki sifat yang berlainan. Gunung yang melambangkan ANJING dikatakan dapat menjaga keselamatan ataupun ketenangan. Sedang gunung yang melambangkan Harimau, dapat diartikan bersikap menantang. Ada seorang pakar Hong Sui di Hongkong ketika memeriksa daerah pemakaman, pernah menyatakan bahwa gunung itu berbentuk gajah, bagian lainnya berbentuk ular, harimau, burung Hong (phoenix), naga dan sebagainya.

Orang Tionghoa pada umumnya sangat serius menanggapi hal semacam itu. Sedangkan orang barat sering mengumpamakan sesuatu gunung seperti orang bongkok, puting susu, dan sebagainya.

Gunung dan sungai bukan saja dapat mempengaruhi watak seseorang juga dapat berpengaruh baik maupun buruk bagi suatu daerah. Konon kabarnya, pada abad 17, selama beberapa tahun belakangan panen padi di sebuah daerah di propinsi Canton KUANG TUNG selalu merosot.

Seorang pakar Hong Sui menyelidiki sebabnya, ditemukannya bentuk sebuah bukit yang mirip TIKUS, yang selalu memakan padi yang akan dipanen., mengakibatkan hasil panen selalu menurun.

Ahli Hong Sui tersebut menyarankan pada penduduk agar meletakkan alat penangkap TIKUS JEBAKAN TIKUS dalam bentuk atau ukuran besar di balik pintu rumah masing-masing. Tak lama setelah itu, hasil panen pun selalu memadai dan menggembirakan. YANG paling sering terlihat dari lambang gunung adalah bentuk naga. Gunung yang bersimbol seperti ini dapat mengayomi keberuntungan penduduk desa disekitarnya.

Setiap bagian dari gunung itu akan terlihat seperti bagian dari tubuh Naga, mulai dari lereng gunung terus sampai ke puncaknya. Gambar ke 1.



Ada batu yang menjorok ke kiri kanan lereng, itu merupakan kaki dan tangan NAGA, sungai dan air terjun merupakan pembuluh darah naga gunung, yang dapat menyemburkan hawa, yaitu hawa naga. Pakar Hong Sui biasanya akan menelusuri lereng yang sarat akan tumbuhan, untuk dapat menemukan daerah yang mengeluarkan LUNG CHI (LOONG CHI/HAWA NAGA).

Pernah seorang pakar HONG SUI berkata : NAGA YANG MISTERIUS TAK AKAN HENTINYA MEROBAH ARAH DAN GUNUNG YANG MEMILIKI NAPAS KEHIDUPAN, PADA AWALNYA BERLARI KE TIMUR, KEMUDIAN MEMBELOK KE BARAT, ATAU PADA AWALNYA BERLARI KE SELATAN, LALU MEMBELOK ARAH KE UTARA. IA DAPAT BERGERAK KE MANA SAJA GUNUNG/BUKIT YANG DAPAT BEROBAH BENTUK DISEBUT GUNUNG NAGA, YANG TIDAK BERGERAK DISEBUT GUNUNG TANPA NADI NAGA.

Di dalam benda kesenian atau cerita klasik Tiongkok, akan selalu ada gambar atau legenda tentang naga. Setiba di jamannya dinasti CHENG (CHENG-TIAUW), NAGA BEROBAH MENJADI LAMBANG RAJA (KAISAR).

Singgasana kaisar berukiran naga,m jubah panjang yang dikenakannya juga selalu bersulam seekor naga. Maka raja yang setengah DEWA itu seringkali disebut NAGA. Menurut cerita, banyak leluhur KAISAR adalah Naga.

Naga Gunung atau SAN LUNG dan NAGA AIR atau SUI LUNG juga memiliki kekuasaan yang sama. Ia dapat menguasai daerah sekitarnya, melawan penyakit menular, mengatasi kelaparan, nasib buruk, ia adalah pelindung namun juga sebagai perusak yang bisa menghancurkan secara fatal.

Di Hongkong orang sering memperbincangkan nama KOWLUN. Nama ini berasal dari pengorbanan seorang kaisar dalam dinasti SUNG (SONG-TIAUW). Menurut legenda, ketika orang Mongol menyerbu dan menguasai daratan Tiongkok, seorang peramal menyarankan pada kaisar untuk mencari 9 ekor naga di selatan, agar dapat membangun kerajaan lagi.

Ketika kaisar tiba di daerah selatan, hanya berhasil menemukan 8 ekor naga, membuatnya kecewa dan putus asa, lalu terjun kelaut. Tubuh kaisar menjadi naga dan genaplah 9 ekor naga di daerah itu, tapi usaha kaisar membangun kerajaan baru, bukan saja gagal bahkan harus mengorbankan nyawa.

Ada pula cerita yang menyatakan bahwa setiap bagian dari tubuh naga terdiri dari berbagai binatang lainnya : BERKEPALA ONTA, BERLEHER ULAR, BERPERUT IKAN LEEHI, BERCAKAR GARUDA DAN BERKAKI HARIMAU.

Naga adalah binatang yang sering berobah-robah bentuk, dapat sepanjang beberapa kilometer, tetapi dapat juga sekecil ikan kali. Ia lahir dari telur batu raksasa, amat dihormati manusia, tetapi juga ditakuti. Naga bukan saja memilih bentuk alam, juga tenaga alam. NAGA AIR misalnya merupakan sumber kesuburan. Tetapi bila sedang marah merupakan penyebab kehancuran dan kematian. Naga air berpengaruh terhadap hawa, air dan tenaga air. Bila kita mengharapkan suatu daerah berkabut, cukup membuat naga terbang ke daerah itu.

Dalam tradisi TIONGHOA, NAGA merupakan simbol kekuatan, kesuburan, dan kemakmuran. Naga muncul dalam bentuk seni dengan dekorasi perselen kuno dan dalam pertunjukan rakyat seperti ada di perayaan tahun baru imlek dengan pesta topengnya.

Proses terjadinya adaptasi naga dalam budaya tionghoa adalah karena bangsa ini kemudian mampu mengidentifikasikan diri mereka dengan keperkasaan NAGA dalam legenda itu sendiri. Sehingga terciptalah suatu tairan yang biasa digelar pada hari-hari raya dalam siklus budaya tionghoa, mulai dari tahun baru imlek, berkembang luas dan disebut pertunjukan LIANG LIONG.

Sebagian besar orang Tionghoa percaya akan anga yang dihubungkan dengan gejala alam yang membawa malapetaka, misalnya GERHANA MATAHARI atau BULAN, hanya lantaran NAGA MENELAN BULAN ATAUPUN MATAHARI. Hujan badai karena naga sedang berperang tanding. Musim kemarau lantaran naga sedang tidur. Banjir lantaran naga sedang marah.

Sudah menjadi kebiasaan bagi orang Tionghoa zaman dulu untuk mempersembahkan sesajen disungai dan kebiasaan itu berlangsung hingga dinasi HAN, yang setiap tahunnya menceburkan seorang gadis ke sungai untuk dijadikan mempelai NAGA. Maksudnya agar Naga tidak marah dan dapat mengendalikan alam semesta dengan keselarasan yang benar-benar berimbang. Sampai pada abad ke 16, naga masih menempati posisi penting dalam hati orang tionghoa.

Pernah sekali waktu terjadi banjir besar di HUA PEI, konon kabarnya ada seekor naga masuk ke rumah penduduk. Ketika keluar, naga itu bukan saja merusak rumah, juga menghancurkan tanaman disekitarnya, membuat penduduk menderita rugi yang tidak sedikit.

Pada abad ke 9 setelah Masehi, Pek Chi Yi, seorang penyair di dinasti TANG (TONG), Ketika jadi pejabat di HANG-CHIU, sangat berhasil dalam membuat saluran air, hingga daerah yang diperintahnya selalu terhindar dari banjir dan tanaman tumbuh subur. Ia pernah menciptakan
sebuah sajak yang mengeritik rakyat yang terlampau menjunjung tinggi naga air.

Tapi di dalam lubuk hati sebagian besar orang Tionghoa, SAN SUI (GUNUNG dan SUNGAI) adalah abadi, tak pernah berobah. Ketenagan dan keindahan alam di sekitarnya, membuatnya jadi tempat pelarian bagi politikus yang gagal dalam karier, penyair, pelukis dan orang pandai yang telah jenuh akan kehidupan di kota yang ruwet dan kotor, juga banyak menetap di daerah SUN SUI, menikmati keindahan alam serta kesegaran hawa udara yang menyegarkan.

Di dalam kota juga tak kurang orang yang membuat panorama imitasi : Kolam yang dianggap sebagai telaga, tumpukan batu yang dianggap sebagai gunung. Membuat SAN SUI mini, agar ketika si penghuni kembali ke rumah, dapat menikmati ketenangan suasana.

Hong Sui suatu negara mengikuti bentuk gunung dan aliran sungai. Dalam hal ini Lim Yun Taysu membagi dunia ini dalam bentuk daratan, gunung, sungai, dan telaga.

Bila kita berhasil menyelidiki sumber dari segalanya itu, kita dapat mengerti peruntungan/rejeki suatu negara katanya. Pakar Hong Sui berpendapat, bahwa gunung negatip atau pasif dan air positif atau aktif saling bergantung, agar memperoleh keseimbangan. Bumi membutuhkan air untuk mengaliri sawah, sungai membutuhkan gunung, agar terhindar dari bahaya banjir.

Dalam Hong Sui, gunung dan sungai merupakan tanda istimewa. Bagi pakar Hong Sui, bumi memiliki bentuk yang selalu berobah. Di saat ingin membangun rumah, perkampungan ataupun pemakaman , para ahli Hong Sui harus memeriksa bentuk tanah di sekitarnya, bagian tengah gunung, aliran sungai dan sebagainya. Mereka selalu mencari tanda istimewa, misalnya letak, tumbuh-tumbuhan , batu-batuan. Mereka harus berpegang pada prinsip.

Puncak gunung merupakan titik pertemuan antara langit dan bumi tapi sayang telah ditentukan arahnya. Di atas gunung sering dibangun kelenteng dan vihara. Gunung terbesar di Timur See An adalah THAY SAN, sudah jadi kebiasaan Kaisar sembahyang ke sana, agar mantap kekuasaannya.

Dalam cerita klasik tiongkok dikisahkan bahwa suatu saat kaiser CHEN SHE HUANG TI (CHIN SIE ONG) naik ke gunung Thaysan untuk bersembahyang, tapi di tengah jalan jatuh tertiup badai, sebagai bukti, bahwa kekuasaanya tidak lah abadi. Terbukti , tak lama kemudian kerajaan yang diperintahnya hancur berantakan.


**********

Comments

Popular posts from this blog

[ BELAS KASIH DAN PRIBADI ] Pengembangan Belas Kasih PART 4

[ BELAS KASIH DAN PRIBADI ] Tujuan Hidup PART 1

Rumah Sejati Oleh VEN. AJHAN CHAH