[ BALAS KASIH DAN PRIBADI ] Sahabat dan Musuh PART 6
Saya harus menekankan sekali lagi bahwa belas kasih, akal sehat dan kesabaran itu baik, tetapi dengan hanya berpikir mengenai hal-hal tersebut tidaklah cukup. Kita harus menunggu sampai kesukaran - kesukaran muncul dan kemudian berusaha untuk mempratikkannya.
Siapakah yang menciptakan kesempatan-kesempatan tersebut ? Tentunya bukan sahabat-sahabat kita, tetapi justru musuh-musuh kita. Merekalah yang mempersulit kita. Jadi jika kita sunguh-sunguh ingin belajar, kita harus menganggap msuuh- musuh kita sebagai guru kita yang terbaik.
Untuk seseorang yang mendambakan belas kasih dan cintah kasih, latihan bertoleransi adalah yang utama dan oleh karenanya seorang musuh diperlukan. Kita harus berterima kasih kepada musuh kita, karena mereka lah yang dapat membantu kita mengembangkan ketenangan batin. Seperti sering terjadi dalam kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat, dikarenakan perubahan dalam suatu keadaan, musush bisa saja menjadi teman.
Amarah dan dendam selalu merugikan. Jika kita tidak melatih pikiran kita dan berusaha untuk mengurangi kekuatan negatifnya, maka mereka akan terus mengganggu dan mengacauan usaha kita untuk mengembangkan batin. Amarah dan dendam adalah musuh - musuh kita yang sebenarnya. Kedua kekuatan ini harus dapat kita hadapi dan kalahkan, bukan musuh-musuh yang timbul tenggelam sepanjang hidup kita.
Adalah wajar kalau kita ingin mempunyai teman. Bila anda tidak ingin menjadi seorang yang egois, maka anda juga harus perduli akan kepentingan orang lain. Anda harus perduli akan kepentingan orang lain, memikirkan kesejahteraan mereka, menolong, melayani mereka, banyak berteman dan banyak tersenyum. Hasilnya ? ketika anda membutuhkan bantuan, anda akan menemukan banyak penolong! Sebaliknya, jika Anda mengabaikan kebahagiaan orang lain, maka pada akhirnya adalah yang menjadi orang yang kalah. Apakah persahabatan dapat dihasilkan melalui pertengkaran dan marah, iri hati dan persaingan? Saya rasa tidak. Hanya kasih sayang yang dapat membawa kita pada persahabatan yang sejati.
Dalam masyarakat yang materialistik seperti sekarang ini, jika anda memiliki kekayaan dan kekuasaan anda memiliki banyak teman. Sesungguhnya mereka bukanlah teman-teman anda, mereka adalah teman-teman dari uang dan kekuasaan anda. Kalau anda kehilangan pengaruh dan kekayaan, maka orang-orang ini biasanya sulit ditemukan.
Masalahnya adalah, ketika segala sesuatu dalam hidup kita di dunia ini berjalan dengan lancar, kita merasa yakin bahwa kita dapat mengatasi semuanya sendiri dan tidak membutuhkan teman, tetapi jika status dan kesehatan kita menurun, kita akan cepat menyadari betapa kelirunya anggapan tersebut. Pada saat itu kita mengetahui siapakah sebenarnya penolong kita dan siapakah yang bener-bener tidak berguna. Jadi untuk mempersiapkan diri akan kondisi tersebut, kita harus mencari sahabat yang baik yang dapat menolong kita bila kebutuhan muncul. Untuk itu kita sendiri harus berusaha menjadi orang yang mau peduli dengan kepentingan orang lain.
Kadang-kadang orang yang menertawakan saya, kalau saya mengatakan bahwa saya ingin mempunyai banyak teman. Saya menyukai orang yang mudah tersenyum, karenanya saya mempunyai kesulitan untuk mendapatkan teman lebih banyak dan mendapatkan lebih banyak senyum, terutama senyum yang tulus. Senyum itu banyak macamnya, misalnya senyum manis, senyum yang dibuat-buat atau senyum diplomatik. Banyak senyum yang tidak menimbulkan rasa puas bahkan menimbulkan kecurigian atau rasa takut. Benerkah demikian? Tetapi senyum yang tulus dan sungguh-sungguh akan menimbulkan rasa nyaman. Jika kita ingin senyum ini, maka kita harus menciptakan suasana sehingga hal ini dapat mudah terjadi.
Siapakah yang menciptakan kesempatan-kesempatan tersebut ? Tentunya bukan sahabat-sahabat kita, tetapi justru musuh-musuh kita. Merekalah yang mempersulit kita. Jadi jika kita sunguh-sunguh ingin belajar, kita harus menganggap msuuh- musuh kita sebagai guru kita yang terbaik.
Untuk seseorang yang mendambakan belas kasih dan cintah kasih, latihan bertoleransi adalah yang utama dan oleh karenanya seorang musuh diperlukan. Kita harus berterima kasih kepada musuh kita, karena mereka lah yang dapat membantu kita mengembangkan ketenangan batin. Seperti sering terjadi dalam kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat, dikarenakan perubahan dalam suatu keadaan, musush bisa saja menjadi teman.
Amarah dan dendam selalu merugikan. Jika kita tidak melatih pikiran kita dan berusaha untuk mengurangi kekuatan negatifnya, maka mereka akan terus mengganggu dan mengacauan usaha kita untuk mengembangkan batin. Amarah dan dendam adalah musuh - musuh kita yang sebenarnya. Kedua kekuatan ini harus dapat kita hadapi dan kalahkan, bukan musuh-musuh yang timbul tenggelam sepanjang hidup kita.
Adalah wajar kalau kita ingin mempunyai teman. Bila anda tidak ingin menjadi seorang yang egois, maka anda juga harus perduli akan kepentingan orang lain. Anda harus perduli akan kepentingan orang lain, memikirkan kesejahteraan mereka, menolong, melayani mereka, banyak berteman dan banyak tersenyum. Hasilnya ? ketika anda membutuhkan bantuan, anda akan menemukan banyak penolong! Sebaliknya, jika Anda mengabaikan kebahagiaan orang lain, maka pada akhirnya adalah yang menjadi orang yang kalah. Apakah persahabatan dapat dihasilkan melalui pertengkaran dan marah, iri hati dan persaingan? Saya rasa tidak. Hanya kasih sayang yang dapat membawa kita pada persahabatan yang sejati.
Dalam masyarakat yang materialistik seperti sekarang ini, jika anda memiliki kekayaan dan kekuasaan anda memiliki banyak teman. Sesungguhnya mereka bukanlah teman-teman anda, mereka adalah teman-teman dari uang dan kekuasaan anda. Kalau anda kehilangan pengaruh dan kekayaan, maka orang-orang ini biasanya sulit ditemukan.
Masalahnya adalah, ketika segala sesuatu dalam hidup kita di dunia ini berjalan dengan lancar, kita merasa yakin bahwa kita dapat mengatasi semuanya sendiri dan tidak membutuhkan teman, tetapi jika status dan kesehatan kita menurun, kita akan cepat menyadari betapa kelirunya anggapan tersebut. Pada saat itu kita mengetahui siapakah sebenarnya penolong kita dan siapakah yang bener-bener tidak berguna. Jadi untuk mempersiapkan diri akan kondisi tersebut, kita harus mencari sahabat yang baik yang dapat menolong kita bila kebutuhan muncul. Untuk itu kita sendiri harus berusaha menjadi orang yang mau peduli dengan kepentingan orang lain.
Kadang-kadang orang yang menertawakan saya, kalau saya mengatakan bahwa saya ingin mempunyai banyak teman. Saya menyukai orang yang mudah tersenyum, karenanya saya mempunyai kesulitan untuk mendapatkan teman lebih banyak dan mendapatkan lebih banyak senyum, terutama senyum yang tulus. Senyum itu banyak macamnya, misalnya senyum manis, senyum yang dibuat-buat atau senyum diplomatik. Banyak senyum yang tidak menimbulkan rasa puas bahkan menimbulkan kecurigian atau rasa takut. Benerkah demikian? Tetapi senyum yang tulus dan sungguh-sungguh akan menimbulkan rasa nyaman. Jika kita ingin senyum ini, maka kita harus menciptakan suasana sehingga hal ini dapat mudah terjadi.
Comments
Post a Comment