Melindungi Keserasian Alam
HASRAT dan kebutuhan manusia acapkali berbenturan dengan ketenangan / keserasian alam. Perobahan apa saja yang terjadi di bumi, pembangunan jalan, pembuatan sumur, pembangunan rumah atau kolam renang dapat menghambat aliran CHI.
Pada zaman dulu, bila ingin melakukan perobahan di bumi terlebih dahulu harus meminta petunjuk pakar HONG SUI. Mereka, para ahli Hong Sui sama seperti dokter di bagian mana yang harus dibedah atau digali serta memberi petunjuk agar dapat memulihkan keseimbangan YIN dan YANG. Maksudnya agar bangunan baru itu tidak sampai mengganggu keseimbangan atau keserasian alam dengan manusia.
Pada umumnya orang tionghoa keberatan bila ada sesuatu pihak yang ingin merusak lingkungan hidup. Pada zaman dahulu kala mereka akan berusaha menghindari pembuatan jalan yang menembus gunung, sebab dianggap dapat merusak aliran CHI.
Itu sebabnya, jalan raya di tiongkok banyak yang mengitari atau mengelilingi gunung, agar tidak merusak keseimbangan dan keserasian alam. Salah satu contoh yang paling gamblang adalah pembuatan WAN LI CHANG CEN (TEMBOK BESAR) yang melintang dari HUA PEI hingga mendekati kaki gunung himalaya. Pembuatan TEMBOK BESAR ini sesuai dengan aturan HONG SUI.
Pada zaman dinasti CHIN (221 - 207 sebelum masehi) setelah CHEN SHE HUANG (CHIN SIE ONG) meninggal, timbul masalah siapa yang akan menjadi pewaris.
Meng Kua, seorang pewaris setiap yang sebelumnya telah diutus memperbaiki WAN LI CHANG CEN (BAN LI TIANG SHIA, TEMBOK BESAR), Baru saja merampungkan tugasnya, belum tentuk kalau CHIN SIE ONG telah mangkat, tiba-tiba menerima surat keputusan kaisar, yang menyatakan dia telah berkhianat dan dijatuhi hukuman mati. Berdasarkan catatan sejarah, Meng Kua menduga pasti ada sesuatu yang tak beres di balik surat keputusan tersebut, tak sudi menyerahkan nyawanya begitu saja, berkeluh kesah bahwa dirinya difitnah. Sesungguhnya surat perintah Kaisar dibuat oleh seorang THAYKAM orang kebiri yang bernama THIO KAO.
Sebenarnya, kesalahan MengKue lantaran telah merusak Hong Sui ketika memperbaiki tembok besar yang mengakibatkan bahaya bagi pertanian dan krisis pemerintahan bagi dinasti chin. Beberapa tahun kemudian ambruklah kerajaan tersebut.
Walaupun pembuatan jalan ataupun bangunan telah mengganggu keseimbangan YIN dan YANG tapi asal aliran CHI tetap lancar keadaan HONG dan SUI tetap wajar atau stabil sebagian besar gangguan akan dapat teratasi dan keseimbangan pun akan pulih lagi. Di sinilah keluarbiasaan Hong Sui.
Orang Tionghoa, demi Hong Sui, akan rela berkoban apa saja asal dapat melindungi keadaan mereka. Itu sebabnya sering terjadi benturan dengan pendatang yaitu penjajahan bangsa barat. Sebagai contoh seorang gubenur bangsa portugal yang bernama senor amaral pada abad ke 19 telah membuat jalan tersebut harus menggali daerah pemakaman orang TIONGHOA yang menimbulkan protes keras.
Konon kabarnya penggalian tersebut telah merusak banyak Kaki NAGA. Beberapa waktu kemudian sang Gubenur telah mati terbunuh, dengan kepala terpisahdari tubunya. Itu merupakan pembalasan Hong Sui baginya.
Pada zaman dulu, bila ingin melakukan perobahan di bumi terlebih dahulu harus meminta petunjuk pakar HONG SUI. Mereka, para ahli Hong Sui sama seperti dokter di bagian mana yang harus dibedah atau digali serta memberi petunjuk agar dapat memulihkan keseimbangan YIN dan YANG. Maksudnya agar bangunan baru itu tidak sampai mengganggu keseimbangan atau keserasian alam dengan manusia.
Pada umumnya orang tionghoa keberatan bila ada sesuatu pihak yang ingin merusak lingkungan hidup. Pada zaman dahulu kala mereka akan berusaha menghindari pembuatan jalan yang menembus gunung, sebab dianggap dapat merusak aliran CHI.
Itu sebabnya, jalan raya di tiongkok banyak yang mengitari atau mengelilingi gunung, agar tidak merusak keseimbangan dan keserasian alam. Salah satu contoh yang paling gamblang adalah pembuatan WAN LI CHANG CEN (TEMBOK BESAR) yang melintang dari HUA PEI hingga mendekati kaki gunung himalaya. Pembuatan TEMBOK BESAR ini sesuai dengan aturan HONG SUI.
Pada zaman dinasti CHIN (221 - 207 sebelum masehi) setelah CHEN SHE HUANG (CHIN SIE ONG) meninggal, timbul masalah siapa yang akan menjadi pewaris.
Meng Kua, seorang pewaris setiap yang sebelumnya telah diutus memperbaiki WAN LI CHANG CEN (BAN LI TIANG SHIA, TEMBOK BESAR), Baru saja merampungkan tugasnya, belum tentuk kalau CHIN SIE ONG telah mangkat, tiba-tiba menerima surat keputusan kaisar, yang menyatakan dia telah berkhianat dan dijatuhi hukuman mati. Berdasarkan catatan sejarah, Meng Kua menduga pasti ada sesuatu yang tak beres di balik surat keputusan tersebut, tak sudi menyerahkan nyawanya begitu saja, berkeluh kesah bahwa dirinya difitnah. Sesungguhnya surat perintah Kaisar dibuat oleh seorang THAYKAM orang kebiri yang bernama THIO KAO.
Sebenarnya, kesalahan MengKue lantaran telah merusak Hong Sui ketika memperbaiki tembok besar yang mengakibatkan bahaya bagi pertanian dan krisis pemerintahan bagi dinasti chin. Beberapa tahun kemudian ambruklah kerajaan tersebut.
Walaupun pembuatan jalan ataupun bangunan telah mengganggu keseimbangan YIN dan YANG tapi asal aliran CHI tetap lancar keadaan HONG dan SUI tetap wajar atau stabil sebagian besar gangguan akan dapat teratasi dan keseimbangan pun akan pulih lagi. Di sinilah keluarbiasaan Hong Sui.
Orang Tionghoa, demi Hong Sui, akan rela berkoban apa saja asal dapat melindungi keadaan mereka. Itu sebabnya sering terjadi benturan dengan pendatang yaitu penjajahan bangsa barat. Sebagai contoh seorang gubenur bangsa portugal yang bernama senor amaral pada abad ke 19 telah membuat jalan tersebut harus menggali daerah pemakaman orang TIONGHOA yang menimbulkan protes keras.
Konon kabarnya penggalian tersebut telah merusak banyak Kaki NAGA. Beberapa waktu kemudian sang Gubenur telah mati terbunuh, dengan kepala terpisahdari tubunya. Itu merupakan pembalasan Hong Sui baginya.
**********
Comments
Post a Comment